PERINTAH MENGENAKAN “HIJAB” LEBIH DULU DITUJUKAN KEPADA LAKI-LAKI

Naluri seksual adalah naluri yang kuat dan berakar, bak samudra tak terselami. Walaupun berpikir bahwa dengan menurutinya (hawa nafsu), seseorang akan mampu mengontrolnya, karakternya yang suka menentang akan terus mendesak. Ia laksana api; semakin disiram minyak semakin berkobar.
Sejarah mengingatkan tentang orang-orang yang mendambakan kekayaan, namun kemudian makin menjadi-jadi (mencari kekayaan) demi menambah apa yang telah dimilikinya. Berapapun banyaknya kekayaan yang diperoleh, mereka makin lapar untuk mencari yang lebih banyak lagi (seperti Buto Ijo, sosok mahluk raksasa yang makin banyak makan justru makin lapar). Sejarah juga menyebutkan orang-orang yang tamak terhadap kesenangan seksual. Dengan segala cara, mereka memiliki dan menguasai perempuan-perempuan cantik demi memenuhi hasrat-hasrat seksualnya. Inilah situasi mereka yang mempunyai harem-harem dan, lebih tepat lagi, mereka mempunyai kekuatan untuk menguasai kaum parempuan.
Bagaimanapun, Islam telah menekankan secara khusus kekuatan yang mengagumkan dari naluri yang buas ini. Banyak hadis yang membicarakan tentang bahaya penglihatan, bahaya pria dan wanita yang berdua-duaan,dan, akhirnya, bahaya naluri yang mempersatukan pria dan perempuan ini.
Islam telah menetapkan cara untuk mengendalikan, menjinakkan, dan menyeimbangkan naluri ini. Kewajiban-kewajiban telah diberikan, baik kepada pria maupun perempuan dalam konteks ini. Sebuah kewajiban, yang merupakan tanggung jawab keduanya, berhubungan dengan persoalan saling memandang:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung di dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka…” (QS. an-Nur: 31)
Pendeknya perintah tersebut, perintah tersebut menyatakan bahwa seorang pria dan wanita semestinya tidak saling mengarahkan pandangan mata masing-masing. Sudah sepantasnya merka tidak saling menggoda. Mereka sudah sepatutnya tidak saling memandang dengan nafsu atau dengan niat mencari kesenangan seksual (kecuali berada dalam ikatan suci pernikahan).
Islam telah menetapkan perintah tertentu kepada seorang perempuan agar menutup auratnya dari seorang pria yang bukan mahram, dan bahwa dirinya tidak bersolek atau menampilkan auratnya ditengah-tengah masyarakat. Dia semestinya tidak menggoda perhatian pria dengan cara apapun.
Alasan mengapa islam memerintahkan hal tersebut hanya kepada perempun adalah karena hasrat untuk tampil dan memperllihatkan diri merupakan karakter khusus kaum perempuan. Kaum perempuan adalah pemburu hati pria yang menjadi mangsanya. Di sisi lain, pria adalah pemburu tubuh perempuan yang menjadi mangsanya. Hasrat perempuan untuk memperlihatkan dirinya datang dari esensi karakter“pemburu” tersebut. Naluri perempuanlah yang, karena karakter khususnya, berkehendak untuk memburu hati dan memiliki pria. Dengan demikian, penyimpangan dimulai dari naluri perempuan dan, karenanya, perintah untuk menutup (aurat ) dikeluarkan.

Kita mengetahui dari gaya hidup Nabi suci saw bahwa tidak wajib bagi pria untuk menutupi kepala, tangan, wajah, atau lehernya. Apakah ini berarti bahwa tiadak dianjurkan pula bagi pria untuk menundukkan pandangannya ketika berpapasan dengan perempuan?
Coba kita perhatikan ayat berikut :
‘ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesunguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat “. (Q.S. an-Nur: 30)
Ayat ini pertama kali menekankan pada kaum pria agar terlebih dulu “mengenakan hijab” dengan menundukkan pandangannya dihadapan perempuan. Kemudian ia menasehati perempuan untuk memakai hijab.
Jujur saja, saya sendiri belum bisa dengan tegas memerintahkan, baik kepada istri atau saudara perempuan saya, untuk mengenakan hijab. Baru sebatas memberitahukan, bahwa ini lho perintah dalam agama islam , bagaimana seharusnya seorang wanita berpakaian, dengan memberikan pengertian yang sebisa mungkin dapat dimengerti dan diterima oleh mereka. Untuk selanjutnya terserah kepada mereka.
Kenapa? Ya , karena saya sendiri tidak atau belum bisa mengenakan “hijab” dengan baik.
Apa namanya, dan bagaimana akibatnya, apabila seseorang, memerintahkan sesuatu hal pada orang lain, tapi orang tersebut tidak menjalankan apa yang dia perintahkan ?
Untuk itulah saya minta tolong dan berharap pada para wanita yang mengaku muslimah, untuk mengenakan hijab dengan benar. Selain baik bagi mereka juga baik bagi saya/laki-laki seperti saya yang lemah iman (egois ya).
Kalau berpapasan dengan wanita yang mengenakan jilbab dengan benar, maka saya dapat menjaga pandangan dan tidak memperhatikan mereka. Karena saya tahu, dengan berpakaian seperti itu mereka tidak mau jadi bahan perhatian/pandangan.
Adapun kalau berpapasan dengan wanita yang tidak mengenakan jilbab, atau dengan wanita yang mengenakan jilbab yang tidak benar/menarik (mengenakan jilbab yang menarik berarti cari perhatian, kasihan kan kalau tidak dikasih perhatian, nanti kecewa), duhhhh mata ini, sulit sekali untuk dikendalikan.
Dengan mengenakan jilbab yang baik dan benar, berarti anda telah menolong saya.
Wassalam
sumber : TATA BUSANA ISLAM (Ali Hussain al-Hakim) , membela perempuan. Al-huda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: